//
you're reading...
Uncategorized

Aku dan Sahabat Disabilitasku


difabel
Disabilitas berkaitan erat dengan gangguan perkembangan dalam suatu bidang akademik tertentu, bahasa, berbicara, atau keterampilan motorik yang tidak disebabkan oleh retardasi mental, autisme, gangguan fisik yang dapat terlihat, atau kurangnya kesempatan pendidikan. Disabilitas berkaitan dengan kata difabel yang berarti keadaan fisik atau biologis seseorang yang berbeda dari orang pada umumnya. Difabel terjadi karena bawaan sejak lahir, peristiwa kecelakaan, atau bencana. Seseorang yang mengalami disabilitas memiliki harkat, derajat, dan martabat sebagaimana orang normal. Mereka mempunyai hak yang sama untuk memperoleh kesempatan belajar, bersosialisasi, memperoleh pelayanan kesehatan, dan lain-lain. Karena manusia difabel mengalami ketidakberuntungan fisik dan mental saja. Ketidakberuntungan fisik dan mental yang menyebabkan manusia menjadi difabel bisa dialami siapapun dan kapanpun. Oleh karena itu kita harus bersyukur atas keadaan normal yang ada pada diri kita.

Persepsi Masyarakat Terhadap Anak-anak Difabel
Ada masyarakat yang apriori dan mengucilkan saudara, sahabat, dan mayarakat yang mengalami keterbatasan fisik. Disabilitas bagi masyarakat merupakan keadaan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Namun masyarakat merasa terganggu dengan keberadaan orang yang mengalami gangguan disabilitas. Mungkin masyarakat menganggap seseorang yang difabel kebanyakan menyusahkan karena tidak bisa hidup mandiri. Namun anggapan tersebut salah karena beberapa orang difabel terbukti mampu bekerja dan berwirausaha menjadi orang sukses. Tayangan acara kick andy tentang kesuksesan orang-orang difabel dalam membangun kehidupan adalah fakta yang harus kita akui. Keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan tidak hanya ditunjang faktor fisik tetapi kemauan dan usaha keras untuk berbuat dan merubah keadaan yang ada pada dirinya.

Anak-anak difabel memang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Masyarakat tidak ingin direpotkan dengan keberadaan anak-anak difabel. Persepsi masyarakat yang keliru tentang keberadaan anak-anak difabel dalam kehidupan masyarakat harus kita luruskan. Penting bagi masyarakat memahami hakikat persamaan harkat, derajat, dan martabat manusia. Masyarakat tidak boleh mengucilkan sebagian masyarakat lain karena faktor ekonomi, keturunan, dan keadaan fisik maupun lingkungan. Pengelompokan masyarakat berdasarkan keadaan ekonomi, keturunan, dan keadaan fisik dapat menimbulkan kesenjangan sosial. Keadaan ini bagaikan api dalam sekam apabila dibiarkan akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Kesenjangan sosial dalam memahami keberadaan kelompok masyarakat kurang beruntung harus ditangani sehingga timbul kesadaran dalam masyarakat. Kesadaran masyarakat terhadap kondisi difabel akan mengangkat semangat hidup dan perubahan orang-orang difabel.

Secara sadar atau tidak pemerintah mempunyai peran dalam mengotak-kotakkan masyarakat. Termasuk dalam kesempatan memperoleh pendidikan. Anak-anak difabel dikelompokkan oleh pemerintah di sekolah luar biasa. Masyarakat lekat dengan keberadaan orang-orang difabel apabila mendengar kata-kata luar biasa atau sekolah luar biasa. Keberadaan sekolah luar biasa memang diperuntukkan untuk anak-anak. Seiring dengan arus globlisasi dan perubahan kebijakan, pemerintah mulai mengenalkan istilah sekolah inklusi. Sekolah inklusi mempunyai guru dengan keahlian khusus menangani anak-anak difabel. Keberadaan sekolah inklusi merupakan cara pemrintah untuk mengadakan pembaruan anak-anak difabel dengan anak-anak normal. Keberadaan sekolah luar biasa yang masih jarang menyebabkan orang tua dengan anak difabel menyekolahkan anak difabel di sekolah umum. Hal ini wajar karena akses pendidikan merupakan hak bagi semua warga negara. Sekolah berkewajiban menyukseskan wajib belajar bagi semua masyarakat dan mengusahakan agar anak-anak yang putus sekolah dapat kembali bersekolah. Sekolah-mengetahui keberadaan anak-anak difabel setelah kegiatan belajar dilaksanakan. Pesyaratan pendaftaran siswa baru yang hanya berpatokan pada umur dan peraturan penggunaan uang bos untuk menyukseskan wajib belajar 12 tahun mengharuskan sekolah menerima dan bahkan mengusahakan agar anak-anak putus sekolah dapat bersekolah kembali. Oleh karena itu kebijakan pemerintah tentang keberadaan sekolah inklusi harus kita dukung.

Sekolah Inklusi dan Hambatannya
Keberadaan anak-anak difabel harus ditangani dengan serius. Keberadaan anak-anak difabel merupakan titik rawan sekolah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas output pendidikan. Keberadaan anak-anak difabel merupakan tanggung jawab sekolah untuk membantu mereka memperoleh pelayanan dan penanganan yang tepat. Keberadaan sekolah inklusi merupakan kebijakan pemerintah untuk memberikan penanganan yang tepat dan serius terhadap anak-anak difabel. Sekolah inklusi ditentukan berdasarkan keberadaan anak-anak difabel dan srana-prasarana termasuk kualitas pendidik sekolah tersebut. Oleh karena itu tidak semua sekolah termasuk sekolah inklusi. Karena keberadaan sekolah inklusi dipilih berdasarkan faktor kerawanan masyarakat dan daya dukung sekolah.

Sekolah inklusi atau bukan sekolah inklusi, seharusnya tidak menjadi hambatan bagi seorang anak difabel untuk memperoleh pendidikan. Keadaan anak-anak difabel apabila masih dipandang sebagai beban oleh sekolah akan menghilangkan kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan. Apakah anak-anak difabel tidak boleh bersekolah di sekolah yang dekat dengan rumah? Dan mereka harus sekolah di sekolah luar biasa serta sekolah-sekolah inklusi yang jauh dari jangkauan mereka. Kendalanya adalah pemerintah masih berpedoman pada prestasi dan angka kelulusan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. Pemerintah membiarkan keadaan dimana seorang anak dapat bersekolah disekolah negeri apabila mereka mempunyai prestasi. Hal ini terlihat dari mekanisme penerimaan peserta didik yang masih menggunakan angka prestasi calon anak didik. Akhirnya dimungkinkan terjadi ketidakjujuran untuk memperoleh nilai prestasi baik. Akhirnya banyak anak-anak yang seharusnya dekat dengan sekolah namun tidak bisa bersekolah di sekolah tersebut. Sehingga anak-anak kurang beruntung tersebut terpaksa memilih sekolah lain yang mau menerima mereka. Lalu bagaimana dengan anak-anak dari keluarga kurang mampu dan memiliki keserdasan di bawah rata-rata atau difabel? Apakah mereka juga harus rela disengsarakan sistem yang tidak memihak terhadap keterbatasannya? Pemerinta harus menyadari bahwa belum semua sekolah memenuhi delapan standar pendidikan yang telah ditetapkan badan stantar nasional pendidikan. Kebanyakan sekolah masih kesulitan dalam memberikan standar pelayanan minimal. Sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan banyak biaya untuk membantu sekolah-sekolah di daerah agar memenuhi delapan standar nasional pendidikan. Pemerintah telah membuat aturan dan rencana jangka panjang untuk mencapai pelayanan optimal di sekolah. Namun pemerataan anggaran masih belum tertata dengan baik sehingga masih banyak sekolah yang jauh dari harapan.

Tugas seorang guru adalah mengajar dan mendidik sesuai dengan target kurikulum. Guru menghadapi anak didik dengan berbagai kondisi dan latar belakang yang berbeda. Ada anak cerdas dan tentunya banyak anak yang mengalami kesulitan belajar. Kita harus sadar keberagaman anak didik. Sehingga seorang guru tidak seharusnya dibebani dengan target ketuntasan minimal dan target kelulusan. Karena target-target tersebut pada akhirnya merugikan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar termasuk anak-anak difabel. Anak-anak normal tentu mempunyai kecepatan dalam menyeleaikan soal. Namun kita harus sadar bahwa anak-anak difabel sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan soal hanya membutuhkan waktu dan pelayanan yang berbeda sesuai denga keterbatasan mereka. Anak-anak normal harus kita didik untuk menghormati dan membantu anak-anak disabilitas belajar dan bersosialisasi dengan normal. Penanganan yang kurang tepat akan menyebabkan anak-anak disabilitas terkucil dan terhambat belajarnya. Anak-anak normal abad 21 lebih banyak menerima pembelajaran daripada pendidikan. Sehingga mereka kurang dewasa dalam hal kecerdasan emosi. Anak-anak dan orang dewasa yang rendah kecerdasan emosinya merasa terganggu dengan keberadaan anak-anak disabilitas sehingga mudah mengesploitasi anak-anak difabel.

SD N Karangayu 02 memiliki beberapa anak yang mengalami disabilitas. Kebanyakan anak mengalami disabilitas belajar, dan disabilitas fisik. Anak-anak disabilitas belajar harus ditangani dengan pemberian tambahan belajar khusus. Guru-guru senior telah memberikan waktu khusus untuk membantu keterlambatan belajar anak-anak disabilitas. Sedangkan terhadap anak-anak disabilitas fisik ditangani melalui bimbingan sosial. Anak-anak normal dididik untuk memahami perbedaan setiap anak dan diingatkan untuk selalu bersyukur terhadap kelebihan Tuhan yang diberikan kepadanya. Guru-guru juga diarahkan untuk memberitahukan bahwa keterbatasan anak-anak disabilitas bisa terjadi pada anak-anak yang lain. Karena peristiwa kecelakaan, bencana maupun gangguan psikologi. Kesadaran anak-anak normal terhadap keberadaan anak-anak disabilitas diharapkan mampu mendorong rasa toleransi dan mengurangi masalah-masalah sosial di sekolah. Penanganan ini juga harus disertai dengan pemberian sanksi terhadap pelanggarnya. Sanksi yang bersifat mendidik diharapkan dapat membuat siswa sadar akan kesalahannya dan tumbuh menjadi manusia yang beradab.

Kondisi sosial masyarakat Kelurahan Karangayu yang heterogen dan didominasi masyarakat kelas bawah menyebabkan benturan-benturan dalam masyarakat. Kesenjangan sosial dan kecemburuan ekonomi menyebabkan masyarakat menjadi liar jika tidak tertangani dengan baik. Kebiasaan orang tua di rumah dibawa sebagian besar siswa kesekolah. Sehingga mereka mudah berbicara kasar, bertindak anarkis, dan melakukan perilaku penyimpangan sosial. Masalah terbesar adalah perceraian keluarga. Faktor ekonomi dan perselingkuhan sering menyebabkan gangguan terhadap keharmonisan keluarga sehingga terjadi perceraian. Anak-anak korban perceraian sering terganggu secara mental dan fisik. Emosi orang tua yang harus memikul beban terlampau berat membuat mereka mudah kalap sehingga melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anaknya. Bahkan ada juga orang tua yang mengalami gangguan jiwa. Akhirnya anak-anak harus menanggung akibat dari gangguan yang dialami orang tua mereka. Anak-anak mengalami kerawanan perlindungan keluarga sehingga sering menjadi bahan ejekan dan eksploitasi teman-temannya yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Anak-anak tersebut akhirnya mengalami ketidakpercayaan diri sehingga kurang berani tampil bergaul dengan sesamanya.

Berdasarkan ketentuan laporan evaluasi diri (EDS). Komponen pendidik dan tenaga pendidikan menyarankan sekolah untuk memiliki guru yang memberi layanan khusus. Guru layanan khusus di Sekolah Dasar memiliki peran yang sama dengan guru bimbingan konseling. Karena ketiadaan guru bimbingan konseling di sekolah dasar maka sekolah harus mengupayakan salah satu guru memperoleh ketrampilan khusus. Meskipun setiap guru memperoleh mata kuliah psikologi pendidikan dan perkembangan belajar peserta didik yang mempelajari anak didik difabel dan perkembangannya. Kepala sekolah sebaiknya tetap mendorong guru-gurunya untuk mengikuti kursus-kursus, seminar, dan workshop tentang pendidikan tentang anak-anak difabel. Keterampilan seorang guru dalam mengajar dituntut mampu menyesuaikan diri terhadap anak didik yang dihadapinya. Termasuk kemampuan untuk mengajar dan mendidik anak-anak yang memiliki keterbatasan sejak lahir maupun keterbatasan karena faktor alam dan manusia.

Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang standar pendidik dan tenaga pendidikan. Kriteria penilaian laporan evaluasi diri dibuat berjenjang dari nilai 1 sampai nilai 4. Sekolah memberikan nilai cheklist nilai 1 apabila sekolah tidak mempunyai guru yang melayani anak-anak difabel. Nilai 2 apabila sekolah memenuhi standar pelayanan minimal pelaksanaan pendidikan. Nilai 3 apabila sekolah memenuhi standar yang telah ditentukan termasuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dan nilai 4 apabila sekolah memiliki tenaga kependidikan dengan kualifikasi memadai untuk memberikan pengalaman belajar dengan kualitas tinggi bagi semua
peserta didik, termasuk peserta didik yang mempunyai kebutuhan khusus. Berdasarkan kriteria di atas setiap sekolah tentu mengupayakan nilai 4 untuk memperoleh nilai EDS kriteria amat baik (A). Nilai laporan evaluasi diri sekolah sangat penting bagi sekolah karena menentukan nilai akreditasi/ kualitas sekolah. Apabila nilai akreditasi A tentu sekolah tersebut memiliki delapan standar pelayanan yang memenuhi syarat pelayanan minimal dan termasuk sekolah favorit.

Sekolah Dasar Negeri Karangayu 02 memiliki beberapa siswa yang memiliki disabilitas fisik (tuna daksa) dan disabilitas mental (tuna laras dan tuna grahita). Anak-anak tuna daksa memiliki cacat fisik sejak lahir atau karna musibah. Saya memiliki anak tuna daksa yang mampu berkembang seperti anak biasanya. Kesuksesan anak-anak tunadaksa terletak pada orang-orang disekitarnya. Kepedulian masyrakat terhadap anak-anak tunadaksa mendorong kepercayaan diri anak tuna daksa sehingga berkembang secara normal. Prestasi anak tuna daksa tersebut diatas rata-rata sehingga memperoleh peringkat satu di kelas. Hal ini menyebabkan penerimaan siswa lain terhadapnya semakin baik. Namun ada beberapa anak didik tuna daksa yang memperoleh perlakuan kurang menyenangkan dari anak-anak didik normal. Kurangnya sosialisasi dan pengetahuan guru dan anak didik dalam mendidik dan bergaul dengan anak-anak tuna daksa menyebabkan mereka kurang percaya diri dan menutup diri dari pergaulan. Peran guru, orang tua, dan masyrakat serta pihak terkait untuk memperbaiki persepsi terhadap anak-anak disabilitas. Perkembangan mental anak-anak tuna daksa perlu kita jaga dan perbaiki. Kepedulian anak-anak normal dan orang dewasa harus ditingkatkan melalui pembinaan secara berkelanjutan.

Selain anak-anak tuna daksa di SD N Karangayu 02 juga terdapat anak-anak tuna grahita. Anak-anak tungrahita memiliki daya tangkap terhadap pelajaran di bawah normal. Keberadaan anak-anak tuna grahita harus disadari oleh masyarakat. Guru harus memberikan perhatian lebih agar anak-anak tuna grahita dapat mengikuti perkembangan mental anak-anak normal. Sekolah seyogyanya memberikan pelayanan khusus kepada mereka dalam bentuk bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karir. Bimbingan belajar merupakan pelayanan utama sekolah kepada anak-anak tuna grahita. Berdasarkan standar pelayanan pendidik dan tenaga pendidik, sekolah memperoleh nilai 3 apabila memberikan pelayanan terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan belajar.

Keberadaan peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2010 pasal 181 dan permendikbud nomor 44 tahun 2012 tentang larangan memungut iuran dan lain-lain tidak boleh menjadi kendala sekolah untuk memberikan bimbingan belajar melalui tambahan jam pelajaran. Sekolah melalui guru merupakan kepanjangan tangan Tuhan sehingga harus ikhlas dan amanah dalam memberikan pelayanan pendidikan terhadap anak-anak tuna grahita. Peran orang tua masih dimungkinkan untuk memberikan subsidi silang melalui bantuan seikhlasnya dan tidak mengikat serta tidak menyebabkan diskriminasi. Apalagi profesi guru telah membaik kesejahteraannya melalui pemberian tunjangan sertifikasi guru. Namun kemampuan seorang guru tergantung kondisi keluarganya sehingga kita harus memahaminya. Acapkali anak seorang guru kesulitan dalam memperoleh pendidikan karena keterbatasan biaya sehingga sebagian besar guru mengambil pinjaman untuk mencukupi kebutuhannya. Peraturan dana bantuan operasional sekolah memungkinkan seorang guru memperoleh bantuan mengajar honor dalam memberikan bimbingan belajar untuk membeli alat peraga, dan biaya lainnya yang mendukung kelangsungan pelaksanaan bimbingan.

Apalagi pelaporan bantuan operasional sekolah sudah mulai dilaksanakan secara online. Tentunya keterbukaan laporan penggunaan dana bos memungkinkan masyarakat untuk mengontrol penggunaan dana bantuan operasional sekolah. Peran masyarakat dimulai dari perencanaan sampai pengawasan penggunaan dana BOS. Kepedulian masyarakat dengan memberikan saran dan kritik secara terpadu melalui komite sekolah dan paguyuban orang tua merupakan kunci keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Karena keberadaan dana bantuan operasional sekolah adalah untuk anak didik dan segala kegiatan yang melibatkan anak didik serta operasional sekolah.

Sekolah yang merencanakan anggaran pembiayaan sekolah secara baik tentu harus menganggarkan biaya untuk membantu anak didik difabel memperoleh bimbingan dan bantuan lain sesuai keterbatasan anak tersebut. Anak-anak tuna rungu perlu mendapatkan bantuan alat pendengaran, anak-anak tuna netra atau yang memiliki gangguan penglihatan perlu diusulkan untuk memperoleh bantuan alat penglihatan untuk membeli kacamata. Dewan komite sekolah dan dinas kesehatan harus berperan lebih dalam membantu keterbatasan anak-anak difabel. Sehingga tidak ada lagi berita di media cetak dan elektronik yang memberitakan penderitaan anak-anak dan masyarakat karena keterbatasan biaya. Uang pemasukan negara sesuai amanah undang-undang penggunaannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apabila mekanisme pemberian bantuan terhadapa masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun keterbatasan fisik dikelola secara baik tentu masyarakat akan sadar bahwa mereka memiliki negara. Hukuman terhadap pelaku korupsi harus tegas mengingat penderitaan masyarakat akibat korupsi tidak hanya dirasakan satu-atau dua orang tetapi seluruh masyarakat. Fakta menunjukkan masyarakat setiap hari disuguhkan berita tentang penderitaan masyarakat akibat kesulitan ekonomi dan keterbatasan biaya untuk memperoleh penghidupan yang layak.

Cara Membantu Anak-anak Difabel dalam Memperoleh Pendidikan

Peran serta masyarakat dan pemerintah untuk peduli terhadap anak-anak dan masyarkat yang memiliki disabilitas harus kita tingkatkan. Guru harus memperoleh tambahan pengetahuan tentang bagaimana memberikan pelayanan pendidikan terhadap anak-anak difabel? Pelayanan yang diberikan guru harus pelayanan prima dengan mengesampingkan sementara problem kehidupannya sendiri. Anak-anak normal harus kita latih dan diberikan kesadaran tentang keberadaan anak-anak difabel dan bagaimana bergaul dan belajar secara baik apabila sewaktu-waktu mereka memiliki teman difabel atau bahkan mereka sendiri menjadi difabel. Sekolah sebagai penyelenggara pemerintahan di tingkat sekolah perlu membuat rencana pembiayaan yang memperhatikan keberadaan anak-anak difabel. Masyarakat perlu mendukung dan mengawasi kegiatan sekolah dan peduli terhadap keberadaan anak-anak difabel. Sesunggugnya Tuhan mengabulkan doa orang-orang teraniaya. Sehingga seyogyanya kita melaksanakan amanah dan berbuat baik terhadap sesama.

Pemerintah seharusnya tidak membebani sekolah denga target ketuntasan minimal dan target kelulusan. Pemerintah perlu mengembalikan keadaan dimana siswa tidak lulus bukan momok yang harus ditakuti. Pemeritah harus lebih peduli dengan anak-anak difabel dengan kebijakan yang tegas. Kebijakan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada sekolah untuk memnuhi standar pendidik dan tenaga pendidikan harus kita dukung. Keberadaan sekolah inklusi harus diperbanyak dan delapan standar pendidikan harus diusahakan tercapai oleh semua sekolah. Pemerintah daerah seharusnya menata ulang sistem penerimaan peserta didik dengan mengutamakan akses masyarakat terdekat untuk memperoleh pendidikan. Kepala sekolah harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk memperoleh penyegaran pengetahuan tentang pendidikan inklusi. Sekolah harus mengusahakan pelayanan yang tepat terhadap anak-anak difabel dan meningkatkan pengetahuan anak-anak normal tentang cara bersahabat dengan anak-anak difabel. Guru-guru tidak perlu cemas terhadap keberadaan anak-anak difabel dan mengusahakan pembelajaran dan pendidikan terhadap anak-anak difabel sesuai dengan kemampuan mereka. Guru tidak boleh menganggap sama anak normal dan anak difabel dalam belajar. Guru harus mengadakan kegiatan pelayanan bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karir terhadap semua anak. Guru harus membantu anak memperoleh semangat dan kemampuan belajar anak didik sesuai dengan daya latar belakang dan keadaan tiap anak. Masyarakat harus mendukung segala upaya pemerintah dan sekolah dalam pelaksanaan kebijakan terhadap anak-anak difabel. Orang tua anak-anak difabel perlu diberikan pendidikan yang tepat bagaimana membantu anak-anaknya berkembang baik secara fisik dan mental. Semua usaha pemerintah dalam membantu anak-anak difabel memperoleh pelayanan sesuai dengan keterbatasannya tidak akan terwujud apabila penyalahgunaan wewenang masih terjadi. Oleh karena itu pemerintah harus tegas dalam mencegah praktik penyalahgunaan wewenang. Hukuman terhadap pelnggar wewenang harus sama sesuai dengan kesalahan dan tidak boleh ada diskrimminasi dalam hukum Semoga pemerintah kita dan masyarakat lebih peduli terhadap ana-anak difabel.

About Ibnu Anwar

jangan bertanya saya sudah menjadi apa tapi bertanyalah apa yang sudah kamu perbuat untuk bangsa ini!

Diskusi

One thought on “Aku dan Sahabat Disabilitasku

  1. setuju sekali.
    Jk disabilitas tsebut memang fktor bwaan sejak lahir, memang sulit menyikapinya. Pengalaman sy di pedurungan kidul 02, memang anak2 yg khusus disabilitas dr aspek biologis hrus mendatangkan guru khusus dr luar.
    Pengalaman sy di SD yg skrg jg pernah ada.
    Dia yg notabenenya sudah duduk di kelas 3 SMA, mlah dia msh dikelas 3 SD. Ketika disarankan ke skolah khusus, orang tua anak tersebut marah2 bkn kepalang. Krna guru2 sudah tidak mampu menanganinya.Krna bgi masyarakat pedesaan, masuk ksekolah khusus merupakan aib. Sejak saat itu, anak tu keluar.
    Jk disabilitasnya krna faktor broken home, Tema ini jg pernah sy angkat sbagai Tema bhkan sebagai judul TA sya wktu D2.
    Krna dampak broken home bg anak2 jarang sekali diperhatikan. Yg justru dampakny lebih besar ketimbang disabilitas dr aspek biologis.
    Apalagi, skrg bnyk skali kasus serupa terjadi krn keegoisan ortu semata.

    Posted by nia | 21 Desember 2012, 02.00 +00:00Des
%d blogger menyukai ini: